A. Pendahuluan
Dalam kehidupan manusia sebagai individu maupun makhluk sosial ia senantiasa mengalami warna warni kehidupan. Ada kalanya senang, tentram dan gembira. Tetapi pengalaman hidup membuktikan bahwa manusia juga kadang kadang mengalami hal-hal yang pahit, gelisah, frustasi dan sebagainya, ini menunjukan bahwa manusia senantiasa mengalami dinamika kehidupan.
Berbagai macam cara dilakukan agar manusia dapat menyalurkan rasa senang, tenang dan gembira atau dengan kata lain agar manusia memperoleh kebahagiaan dan terhindar dari hal-hal yang mengecewakan.
Mampu tidaknya seseorang dalam mencapai keinginannya tergantung dari vitalitas, temperamen, watak serta kecerdasan seseorang.
Vitalitas merupakan semangat hidup, pusat tenaga seseorang, ia merupakan dasar kepribadian dan merupakan unsur penting yang ikut menentukan kemampuan berprestasi, dan bersifat dinamis. Setiap orang memiliki vitalitas yang berbeda ada yang kuat ada juga lemah.[1]
Kepribadian juga merupakan faktor yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Ia akan ikut menentukan sukses tidaknya seseorang. Kepribadian meskipun ia merupakan faktor yang penting dalam kejiwaan dan berada pada tataran rohani namun wujudnya dapat terlihat pada tingkah laku dan sikap hidup seseorang.
Beberapa ahli psikologi telah banyak mengemukakan teori tentang kepribadian antara lain William James, ia berpendapat bahwa kepribadian merupakan unsur kesatuan yang berlapis-lapis. Terdiri dari The Material Self atau diri materi, The Social Self atau diri social, The Spiritual Self atau diri rohani dan Pure Ege atau ego murni atau Self of Selves.[2]
Sementara itu Sigmund Freud menyatakan bahwa kepribadian itu terdiri atas tiga system yaitu id, ego dan super ego. Id merupakan kepribadian yang berhubungan dangan prnsip kesenangan atau pemuasan biologis, sedang ego merupakan bagian kepribadian yang berhubungan dengan lingkungan dasarnya adalah kenyataan dan super ego merupakan bagian kepribadian yang berhubungan dengan norma sosial, moral dan rohani.[3]
Di kalangan intelektual Muslim masalah jiwa sudah banyak dibahas oleh para ahli diantaranya Al-Farabi, Ibnu Sina, Ikhwan Ash Shafa, Al-Gazali, Ibnu Rusyd, Ibnu Taimiyah dari Ibnu Qayyim al Jauzi[4].
Seorang filsafat Muslim sekaligus psikolog Muslim Ibnu Sina telah menemukan metode conseling dengan cara mengukur kecepatan detak jantung pasiennya untuk mengetahui kadar emosinya. Teori ini dalam ilmu psikologi modern disebut alat pendeteksi kebohongan yang dapat digunakan untuk mengungkap berbagai tindak kejahatan.[5]
Hal ini karena substansi manusia itu sendiri terdiri dari jasad dan ruh. Keduanya saling membutuhkan, jasad tanpa ruh maka merupakan substansi yang mati dan ruh tanpa jasad tidak dapat teraktualisasi. Untuk mempertemukan keduanya dalam psychology Islam diperlukan nafs[6]
Psikologi Islam juga membahas tentang syakhsiyah atau personality atau kepribadian. Dalam literature klasik seperti Al-Gazali telah membahas tentang keajaiban hati[7] dan Ibnu Maskawaih ditemukan pembahasan tentang akhlak yang maksudnya mirip dengan syakhsiyah. Bedanya syakhsiyah dalam psikologi berkaitan dengan tingkah laku yang didevaluasi sedangkan akhlak adalah tingkah laku yang dievaluasi[8].
Karena itu kepribadian Islam selain mendiskripsikan tentang tingkah laku seseorang juga menilai baik buruknya.
Makalah ini akan membahas tentang struktur kepribadian Islam meliputi substansu jasmani, substansi ruhani dan substansi nafsani.
B. Kepribadian Muslim
Sebagaimana telah dikemukakan di depan, William James menyatakan bahwa kepribadian ialah unsur kesatuan yang berlapis lapis dari diri materi, diri sosial, diri ruhani dan ego murni, maka Sigmond Freud menyatakan bahwa kepribadian adalah terdiri atas tiga system yaitu id, ego dan super ego.
Sementara itu John Hocke telah mengemukakan teori tabula, rasa atau papan lilin yang siap untuk digambari, berbeda dengan Islam yang menempatkan fitrah sebagai potensi dasar kejiwaan[9].
Maka para intelektual Muslim telah mendefinisikan kepribadian yakni merupakan bentuk integrasi antara system kalbu, akal dan nafsu manusia yang menimbulkan tingkah laku.
Substansi nafsani memiliki tiga daya yaitu (1) kalbu atau fitrah ilahiyah, akal atau fitrah insani dan nafsu atau firah hayawaniah. Kepribadian pada dasarnya merupakan perpaduan antara ketiga daya tersebut, hanya saja biasanya ada salah satu diantaranya yang mendominasi yang lain.[10]
Al Kindi mendefinisikan jiwa adalah an nafs nathiqah substansinya bersifat ilahi rabbani yang berasal dari cahaya (nur) sang pencipta[11].
Oleh karena itu jiwa atau hati harus senantiasa dihidupkan dengan cahaya ilahi. Dalam Islam hati yang hidup adalah sumber kebaikan dan kematian hati adalah sumber keburukan. Akar semua kebaikan dan kebahagiaan seorang hamba adalah kesempurnaan hidup dan cahayanya. Hati yang sehat dan hidup akan bisa membedakan antara kebaikan dan keburukan.[12]
Kepribadian seorang Muslim berarti menuntut agar jiwanya selalu hidup dengan nur ilahi. Inilah yang membedakan antara kepribadian menurut konsep Islam. Kepribadian Islam merupakan ciri khas, watak maupun karakter umat Islam. Kepribadian Muslim atau sering disebut akhlak Islami yaitu prilaku seorang Muslim yang merupakan perpaduan harmonis antara kalbu, akal dan fitrah insani.
Kepribadian bagi seorang Muslim ialah yang senantiasa menjaga hatinya untuk selalu taat kepada Allah dan berbahagia karena dekat kepada Allah sehingga memperoleh sinarnya dengan senantiasa mengerjakan ibadah dan amal saleh lainya.. sedangkan hati yang kotor dan ingkar kepada Allah yang muncul dari anggota badanya adalah sifat keji adalah bekas hati yang kotor dan gelap tanpa sinar[13].
Dalam hal ini Hasan al Basri berkata : Kebagusan Akhlak ialah manis mukanya, memberi kelebihan dan mencegah kesakitan. Sedang Al Washili berkata akhlak yang baik ialah menyenagkan manusia pada waktu suka dan duka. Dan Sahal al Tsauri berkata akhlak yang baik ialah sekurang-kurangnya menanggung penderitaan orang lain, tidak membalas kezaliman orang lain, memintakan ampunan kepada Allah terhadap orang yang berbuat zalim dan belas kasih kepadanya.[14]
Jika dilihat dari definisi definisi tersebut maka menurut pendapat penulis maka hal-hal seperti tersebut adalah buah dari akhlak karena akhlak itu sendiri adalah system kerja rohani yang terdapat dalam jiwa manusia.
Kadang-kadang dalam kondisi tertentu terjadi perubahan tingkah laku. Hal ini disebabkan karena salah satu substansi jiwa mendominasi yang lainnya. Jika dalam interaksi seseorang didominasi oleh nafsu maka yang muncul ialah sifat pendusta, egois, bakhil, suka mengancau dan amarah. Hal ini dalam psikologi Islam dinamakan jiwa yang sedang sakit. Tetapi apabila yang mendominasi akal dan kalbu maka yang muncul adalah sifat-sifat terpuji dan ma’rifat kepada Allah, inilah yang akan mendatangkan kebahagiaan[15].
Hasil kerja kalbu atau kepribadian yang didominasi dengan kalbu akan menghasilkan kepribadian mutmainah wujudnya kepribadian atas dasar iman, Islam, dan ikhsan. Sedangkan kepribadian yang didominasi dengan akal akan menghasilkan kepribadian lawwamah, suatu kepribadian yang berdasarkan sosial moral dan rasional. Dan kepribadian yang didominasi oleh nafsu menghasilkan kepribadian amarah, ia bersifat produktif, kreatif dan konsumtif.[16]
Oleh karena itu kepribadian ada yang menarik dan ada yang tercela. Kepribadian yang menarik ialah kepribadian yang memiliki sifat-sifat positif seperti rajin, sabar, pemurah dan suka menolong. Sedangkan kepribadian yang tercela yaitu kepribadian yang negatif seperti pemalas, pemarah, kikir, sombong dan sebagainya.
C. Struktur Kepribadian Islam
Wacana psikologi Islam tentang struktur dan kepribadian sangat erat pembahasannya dengan substansi manusia.
Substansi jiwa menurut para failasof maupun psikolog Islam terdiri atas tiga bagian yaitu jasmani, rohani dan nafsani atau nafsu. Substansi jasmani berupa organisme fisik manusia ia lebih sempurna dibanding makhluk-makhluk yang lain bersifat lahiriyah yang memiliki unsur-unsur tanah, udara, api, dan air[17] ia akan hidup jika diberi daya hidup atau al bayah [18]. Substansi ruh adalah substansi yang merupakan kesempurnaan awal. Al Gazali menyebutnya lathifah yang halus dan bersifat ruhani. Ruh sudah ada ketika tubuh belum ada dan tetap ada meskipun jasadnya telah mati. Fathur Rahman menyatakan bahwa ruh adalah amanah, karena itu ia memiliki keunikan dibanding dengan makhluk yang lain. Dengan amanah inilah ia menjadi kalifah di muka bumi[19]. Substansi nafsani berarti jiwa, nyawa atau ruh, konotasinya ialah kepribadian dan substansi psiko fisik manusia. Nafs ini merupakan gabungan dari jasad dan ruh. Karena itu nafs adalah potensi jasadi dan rohani. Ia berupa potensi aktualisasinya akan membentuk suatu kepribadian Muslim yaitu merupakan perpaduan harmonis antara kalbu, akal dan nafsani.
STRUKTUR KEPRIBADIAN Islam merupakan perpaduan harmonis antara kalbu, akal, dan nafsani.
1. Al Qalb atau kalbu merupakan materi organic yang memiliki system kognisi yang berdaya emosi. Al Gazali menyatakan bahwa kalbu memiliki insting yang disebut al nur al ilahy dan al bashirah al bathinah (mata batin)[20]. Kalbu dalam arti jasmani adalah jantung (heart) bukan hati (lever). Kalbu dalam artian rohani ialah menunjukan kepada hati nurani (conscience) dan ruh (soul)[21]. Kalbu ini berfungsi sebagai pemandu, pengontrol dan pengendali struktur nafs yang lain. Apabila kalbu ini berfungsi normal maka manusia menjadi baik sesuai dengan fitrah aslinya. Karena kalbu memiliki nature ilahiyah yang dipancarkan dari Tuhan. Ia tidak saja mampu mengenal fisik dan lingkungannya tetapi juga mampu mengenal lingkungan spiritual ketuhanan dan keagmaan
Mengenai kalbu ini Rasulullah SAW pernah bersabda :
Sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging, apabila ia baik maka semua tubuh menjadi baik, tetapi apabila ia rusak maka semua tubuh menjadi rusak pula, ingatlah bahwa ia adalah kalbu[22].
Menurut Huzaifah, hati terbagi menjadi empat yaitu hati yang bersih, yaitu (1) hatinya orang beriman dan mendapat sinar (2) hati yang tertutup yaitu hatinya orang kafir, hati yang buta dan tidak melihat kebenaran (3) hati yang terjungkir yaitu hatinya orang munafik yaitu melihat kebenaran tetapi kemudian mengingkarinya (4) hati yang memiliki dua bekal yakni bekal iman dan bekal kemunafikan, ia tergantung dari mana yang paling dominan[23]. Orang yang kalbunya disinari Tuhan maka ia akan memiliki kepribadian yang kuat, teguh dan tidak mudah putus asa. Dan apabila ia memiliki nafsu muthmainah ia akan tenang dan optimis karena ia yakin rahmat Tuhan pasti akan diberikan.
Agar kalbu selalu mandapat sinar Ilahiyah menurut imam Al Gazali maka harus berilmu dan iradah (kemauan). Dengan ilmu manusia akan mengetahui segala urusan dunia dan akhirat, dan menurut al Gazali kalbu berfungsi untuk memperoleh kebahagiaan akhirat. Secara psikologis kalbu memiliki daya emosi (al infialy) dan kognisi.
2. Akal secara estimologi memiliki arti al imsak (menahan) al Ribath (ikatan) al Bajr (menahan) al Naby (melarang) dan manin (mencegah)[24].
Berdasarkan makna ini maka yang disebut orang berakal adalah orang yang mampu menahan dan mengikat hawa nafsunya. Jika hawa nafsunya terikat maka rasionalitynya mampu bereksistensi. Dengan akal seseorang mampu membedakan yang baik dan yang buruk, yang menguntungkan dan merugikan. Akal mampu memperoleh pengetahuan dengan daya nalar (al Nazhr) dan daya argumentatif.
Melalui akal manusia bisa bermuhasabah yakni menunda keinginan tidak terburu-buru mengerjakannya sehingga menjadi jelas olehnya kelayakannya untuk dikerjakan atau ditinggalkan.
Menurut al Hasan jika pekerjaan tersebut dimotivasi untuk mengharap ridho Allah maka kerjakanlah, tetapi jika tidak karena Allah lebih baik ditunda dahulu. Dan jika motivasinya untuk memperoleh ridha Allah maka harus berfikir dahulu apakah dalam mengerjakan sesuatu itu ia memperoleh pertolongan atau tidak, jika tidak sebaiknya ditunda terlebih dahulu. Dan apabila sudah mendapat kepastian akan pertolongan Allah maka kerjakanlah sehingga ia akan mendapat keberuntungan.
Muhasabah juga bisa dilakukan setelah selesai mengerjakan sesuatu, yakni apakah yang dikerjakan sudah ikhlas karena Allah, sesuai dengan ketentuan Allah. Apakah waktu mengerjakan lepas kendali atau tidak, bagus akibatnya atau tidak[25]. Dengan muhasabah orang akan selamat dan bisa menjadi lebih baik prilkunya dan kepribadiannya.
Sebagaimana Plato, Al Zukhaily berpendapat bahwa jiwa rasional itu bertempat di kepala sehingga yang berfikir adalah akal bukan kalbu. Antara akal dan kalbu sama sama memperoleh daya kognisi tetapi cara dan hasilnya berbeda. Akal mampu mencapai pengetahuan rasional tetapi tidak yang supra rasional, sehingga ia mampu mencapai kebenaran tetapi tidak mampu merasakan hakekatnya[26]
Menurut Al Gazali agar manusia dapat senantiasa berdekatan dan mendapat nur ilahy maka ia harus berilmu dan mempunyai iradah (kemauan). Dengan ilmu seseorang akan mengetahui segala urusan dunia dan akhirat serta segala sesuatu yang berhubungan dengan akal. Dengan kemauan dan akal seseorang akan mengetahui cara-cara untuk memperbaiki serta mencari sebab sebab yang berhubungan dengan hal itu. Al Gazali berpendapat bahwa orang yang sakit nafsunya selalu menginginkan makanan yang enak[27].
Hal ini memberi pengertian kepada kita bahwa jika orang tersebut sehat maka secara akal berarti semua makanan asalkan sehat dan halal dan toyyiban pasti akan terasa enak (lezat). Dengan demikian nafsu untuk selalu menginginkan hal hal yang enak enak akan dapat dikurangi atau dilawan dengan kondisi sehat.
Al Gazali juga berpendapat bahwa ilmu yang diperoleh dalam hati akan memiliki kekuatan untuk melihat dan dapat membedakan aneka bentuk.
Pandangan batin dan pandangan lahir sesungguhnya sama sama memiliki kebenaran, tetapi berbeda derajatnya. Hati laksana pengendara sedang akal laksana kendaraan. Buruknya hati atau pengendara akan lebih membahayakn dari pada buruknya kendaraan itu sendiri. Namun demikian akal tetap diperlukan untuk menyelesaikan problem-problem kehidupan. Akal yang sehat akan mempengaruhi tindakan dan emosi seseorang juga kepribadiannya.
Akal terbagi menjadi dua yaitu akal dharuri dan akal muktasabah. dharuri aitu akal yang dapat mengetahui secara mudah. Akal muktasabah ialah akal yang baru mengetahui dengan cara diusahakan, akal muktasabah terbagi dua yaknu muktasabah duniawi ialah akal yang digunakan untuk menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan keduniawiyan. Akal muktasabah ukhrawi yakni akal yang digunakan untuk mencapai akhirat.[28]
Secara psikologis orang-orang yang memiliki jiwa yang bersih dan akal yang sempurna maka ia akan mampu mengaktualisasikan diri dalam hidup dan kehidupan, yakni melihat realitas secara cermat, tepat apa adanya dan lebih efisien.[29] Ia dapat menerima keadaan dirinya dan orang lain secara professional, yakni mengakui segala kelebihan dan keterbatasan masing-masing, dengan demikian ia akan bisa menerima masukan-masukan dari orang lain secara alamiah tanpa paksaan.[30]
3. Nafsani
Nafsu merupakan daya nafsani, ia memiliki dua kekuatan yaitu, al-Ghadhabiyah dan al-Syahwaniyah. Al-Ghadhabiyah adalah suatu daya yang berpotensi untuk menghindari segala hal yang membahayakan. Ghadab dalam psikoanalisa disebut defenci (pertahanan, pembelaan dan penjagaan), yaitu suatu tindakan untyk melindungi egonya sendiri terhadap kesalahan, kecemasan, dan rasa malu atas perbuatannya sendiri, sedang syahwat dalam psikologi disebut appetite yaitu hasrat atau keinginan atau hawa nafsu, prinsipnya adalah kenikmatan. Apabila keinginannya tidak dipenuhi maka terjadilah ketegangan, prinsip kerjanya adalah sama dengan prinsip kerja binatang, baik binatang buas yang suka menyerang maupun binatang jinak yang cenderung pada nafsu seksual.
Nafsu merupakan struktur di bawah sadar dalam kepribadian manusia, apabila manusia didominasi oleh nafsunya, maka ia tidak akan dapat bereksistensi baik di dunia maupun diakhirat. Karena itu apabila kepribadian seseorang didomonasi oleh nafsu maka prinsip kerjanya adalah mengejar kenikmatan dunia, tetapi apabila nafsu tersebut dibimbing oleh kalbu cahaya ilahi maka ghadabnya akan berubah menjadi kemampuan yang tinggi derajatnya.[31]
Jika nafsu tersebut dikuasai oelh cahaya ilahi yang muncul adalah sifat-sifat kebaikan, tetapi jika nafsu itu dikuasai oleh syaitan maka yang muncul adala sifat-sifat syaitaniyah dan ini disebut hati yang sakit ,hati yang sakit bisa sembu apabila ia kembali kepada cahaya ilahi tetapi akan lebih sakit apabila ia dikuasai oleh nafsu syaitan.
Dalam ilmu jiwa orang yang terganggu mentalnya tidaklah mudah diukur atau diperiksa dengan alat-alat kesehatan, untuk mengetahuinya biasanya hanya bisa dilihat gejalanya seperti tindakannya, tingkah laku dan pikirannya, seperti gelisah, iri hati, sedih yang tidak beralasan, hilangnya rasa kepercayaan diri, pemarah, keras kepala, merosot kecedasannya, suka memfitnah, mengganggu orang lain dan sebagainya.
Kesehatan mental juga berpengaruh terhadap kesehatan badan, akhir-akhir ini dalam ilmu kedokteran ditemukan istilah psychomtic yaitu penyakit yang disebabkan oleh mental, misalnya tekanan darah tinggi, tekanan darh rendah, exceem, sesak nafas, dan sebagainya.[32]
Obat dari berbagai penyakit mental dan yang disebabkan oleh mental adalah berfungsinya system kerja yang harmonis antara kalbu, akal, dan nafsu. Dan ini hanya bisa dilakukan melalui latihan-latihan kejiwaan secara terus menerus.
Harmonisnya jiwan memungkinkan seseorang dapat berhubungan secara harmonis ditengah masyarakat. Untuk itu diperlukan The Art of Interction yaitu seni berhubungan yang baik menuju akhlak yang baik, sebagai landasan utama kebahagian umat, akhlak yang baik juga merupakan faktor utama dalam memperbaiki kepribadian seseorang.[33]
Dalam ilmu tasawuf jiwa yang bersih dan jiwa kotor termasuk dalam nafsu. Dan mereka membagi nafsu menjadi 3 bagian :
1. Nafsu amarah, ia senantiasa cenderung maksiat, baik maksiat lahir maupun maksiat bathin. Orang yang didominasi oleh nafsu amarah maka wujud kepribadiannya ialah tamak, serakah, keras kepala, angkuh, dan perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji lainnya seperti free sexs, suka berkelahi dan sebagainya.
2. Nafsu lawamah, ia sudah mendapat nur ilahi dan suka beribadah tetapi masih sering melakukan maksiat bathin kemudian bersegera beristighfar dan berusaha memperbaikinya. Orang yang berkepribadian lawamah maka senantiasa akan mengevaluasi diri (self correction) untuk menjadi lebih baik.
3. Nafsu muthmainah, suatu kepribadian yang bersumber dari kalbu manusia, di dalamnya selalu terhindar dari sifat-sifat yang tercela dan tumbuh sifat-sifat yang terpuji dan selalu tenang. Kecenderungannya ialah beribadah, mencintai sesama, bertambah tawakal, dan mencari ridho Allah dan bersifat teosentris. Menurut Ibnu Kholdum bahwa ruh kalbu itu disinggahi oleh ruh akal. Ruh akal ini substansinya mampu mengetahui apa saja di alam amar. Ia menjadi tidak mampu mencapai pengetahuan disebabkan adanya hijab, apabila hijab itu hilang maka ia akan mampu menemukan pengetahuan[34].
Bahkan sebagian ahli tasawuf yang lain membagi nafsu menjadi 7 bagian, yaitu : nafsu amarah, nafsu lawamah, nafsu malhamah, nafsu muthmainah, nafsu al rodhiyah, nafsu mardhiyah, dan nafsu kamilah.
D. Kesimpulan
Kepribadian atau watak, cirri khas atau karakter seseorang yang secara eksis dan terus menerus dipertahankan, meskipun demikian kepribadian bisa berubah ubah sesuai dengan faktor yang mempengaruhi.
Dalam Islam kepribadian Muslim identik dengan akhlak Islam, ia merupakan perpaduan harmonis antara system kalbu, akal dan nafsu yang menimbulkan tingkah laku dan merupakan cirri khas umat Islam.
Karena ituciri khas kepribadian Muslim ialah yang selalu menjaga hatinya untuk taat kepada Allah sehingga senantiasa mendapat sinarnya dan menjauhi segala larangannya yang merupakan kotoran-kotoran manusia.
Struktur kepribadian Muslim meliputi tiga substansi, yaitu jasad atau jasmani, ruh atau ruhani dan nafsani atau jiwa, jiwa itu sendiri terdiri dari kalbu, akal dan nafsu. Sedangkan nafsu terdiri dari nafsu amarah, lawamah dan muthmainah. Semuanya ini merupakan struktur kepribadian Islam, yang jika system kerjanya bagus semua akan membentuk kepribadian kamil atau manusia pari purna yang tenang selalu berbuat kebaikan tawakal dan terhindar dari sifat sifat tercela Tetapi kenyataanya sering ada gangguan-gangguan kejiwaan yang dapat menurunkan derajat kepribadianya atau kesehatan mentalnya. Untuk menyembuhkannya harus melalui latihan latihan mental secara terus menerus seperti sabar ,taubat , tawakal, ridha dan sebagainya .
Daftar Pustaka
Abu Hamid Muhammad al Gazali, Ihya Ulumu al Din, Beirut, Dar al Fikri, 1980
Al Gazali, Ihya Ulumu al-Dien, bab, Keajaiban Hati, terj H, Ismail Ya’qub, Jakarta, Faisan, 1984.
Abdul Mujib. M.Ag, dan Yusuf Muzakir, Nuansa-Nuansa Psikologi Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada, th 2001.
-------, Pemikiran Pendidikan Islam, Kajian Filosofik dan Kerangka Dasar Operasionalisasinya, Bandung, Triganda Kama, 1992.
Afifi AE, A Mysical Philosophy of Muhyidin Ibnu Arabi, terj Syahrir Mawi dan Naudi Rahman, Filsafat Mistik Ibnu Arabi, Jakarta, Media Pratama, 1995.
Abd Rahman Ibnu Khaldun, Muqadimah min Kitab al-Ibar wa Diwan al-Mubtada wa al-Khabar fi Ayyam al-Srab wa al-Ajam wa al-Bar Bar, Beirut, Dar al- Fikry, at.
Ahmad Fauzi, H, Drs, Psikologi Umum, Bandung, Pustaka Setia, 1999.
De Boli Tj, The History of the Philosophy in Islam, New York, Dower Publication Inc, 1967.
Hanna Djimhana Bartaman, Integrasi Psikologi dengan Islam Menuju Psikologi Islami, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 1997.
Hasyim Muhammad, Dialog Antara Tasawufdan psikologi, Telaah atas pemikiran Psikologi Humanistik Abraham Maslow, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2002.
Ibnu Qayyim al-Jauhiyah, Keajaiban Hati, Jakarta, Pustaka Ahazam, 2000.
Ibnu Abd Allah Muhammad Ibnu Ismail Ibnu al-Mughirah Ibn Badizhah al Ya’fi al- Bukhary, Yaman, Shahih al-Bukhari, Semarang, Thaha Putra, At.
Maslaw Abraham, Motivasi dan Kepribadian, terj Nurul Iman, Bandung, Pustaka Binaan Pressindo, 1993.
Muhammad Ustman Najali, Dr, Jiwa Dalam Pandangan Para Filusuf Muslim, terj Gazi Saloom, SPI, Bandung, th 2002.
Mansur Ali Rajab, Taam Mulut fi Falsafah al-Akhlak, Mesir, Maktabah al-Anjatu al-Mishriyah, 1961.
Maan Zidadat, dkk, Al-Mausuat al-Falasifiyah al-Arabiyah, Imma al-Araby, 1986.
Sayyid Mujtaba Musafi Hari, Psikologi Hidayah, 1990.
Victor Said Basil, Manhaj al-Babs Amal Ma’rifah Inda al-Ghazali, Beirut, Dar al- Kutub.
Zakiah Derajat. Kesehatan Mental, Jakarta, Gunung Agung, 1970.
[1] H. Ahmad Fauzi, Drs, Psikologi Umum, Bandung, Pustaka Setia, 1999, h. 133
[2] Ibid, h. 132
[3] Ibid
[4] Dr. Muhammad Utsman Najali, Jiwa dalam Pandangan Para Filsafat Muslim, terj. Gari Saloom, S.Psi, Bandung, 2002, h. 16
[5] Ibid, h. 17
[6] Dalam psykologi Islam di bedakan antara nafs dan ruh. Nafs telah memiliki kecenderungan duniawi dan kejelekan, sedangkan ruh hanya berkecenderungan suci dan ukhrawi.
[7] Lihat Abu Hamid Muhammad Al-Gazali, Ihya Ulumu al Din, Beirut, Dar a Fikr, 1980
[8] Mansur Ali Rajab, Ta’am Mulat Fi Falsafah al Akhlaq, Mesir, Maktabah al Anjalu al Mishroyah, 1961, h.13
[9] Drs. H. Ahmad Fauzi, op.cit, h. 116
[10] Abdul Mujib, M.Ag dan Yusuf Mudzakir, M.Si, Nuansa Nuansa Psikologi Islam, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2001, h. 58-59
[11] Al Kindi, Al Qaul fi an Nafs dalam Risail al Kindi al Falasifa, h. 274
[12] Ibnu Qoyyim al Jauriah, Keajaiban Hati, Jakarta, Pustaka Ahzam, 2000, h. 35
[13] Imam al Gazali, Ihya Ulumuddin,Bab Keajaiban Hati, terj. H. Ismail Yakub, Jakarta, Faisan, 1984, h. 5
[14] Ibid, h. 142
[15] Abdul Mujib, M.Ag, op.cit, h. 57
[16] Ibid, h. 62
[17] Lihat. De Bali Tj, The History of The Philosophy in Islam, New York, Dowh Publication Inc, 1967, h. 131
[18] Abdul Mujib, M.Ag, Pemikiran Pendidikan Islam, Kajian Filasofik dan Kerangka Dasar Operasionalisasinya, Bandung, Tri Genda Karya, 1993, h. 11
[19] Abdul Mujib, Nuansa-Nuansa Psikologi Islam, op.cit, h. 41-45
[20] Victor Said Basil, Manhaj al Babs an al Ma’rifah inda al Gazali, Beirut, Dar al Kutub, h. 155
[21] Hanna Djumhana Bastaman, Integrasi Psikologi dengan Islam, Menuju Psikologi Islami, Yogyakarta , Pustaka Pelajar, 1997, h. 78
[22] Ibn Abd Allah Muhammad Ibn Ismail Ibn al Mughirah Ibn Bardhahal al ya’fi al Bukhary, Imam, Shahih al Bukhary, Semarang, Thaha Putra, TT, Juz I, h. 19
[23]Ibnu Qoyyim al Jauriyah, op.cit, h. 22
[24] Maan Zidadat, dkk, al Mansu’at al Falasafiyah al Arabiyah, Arab, Imam al Araby, 1986, h. 465-466
[25] Ibnu Qoyyim al Jautiyah, op.cit, h. 130-131
[26] Abdul Mujib, Nuansa Nuansa Psiokologi Islami,op.cit, h. 55
[27] Imam al Gazali, op.cit, h. 20
[28] al-Ghazali. Op. cit, h. 42.
[29] Maslaw, Abraham, Motivasi dan Kepribadian, terj Nurul Iman, Bandung, Pustaka Binaan Pressindo, 1993, jilid I, h. 6.
[30] Hasyim Muhammad, Dialog Antara Tasawuf dan Psikologi, Telaah atas Pemikiran Psikologi Humanistik Abraham Maslaw, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, 2002, h. 88.
[31] Afifi, AE, Filsafat Mistik Ibnu Arabi, terj Syahrir Mawi dan Nandi Rahman, judul: A Mystical Philosophy of Muhyidin Ibnu Arabi, Jakarta, Media Pratama, 1995, h. 176-177.
[32] Zakiah Derajat Dr. Kesehatan Mental, Jakarta, Gunung Agung , 1970, h. 23.
[33] Sayyid Mujtaba Musafi Hari, Psikologi Islam, Bandung, Pustaka Hidayah, 1990, h. 17.
[34] Lihat Abd Rahman Ibn Kholdum, Muqaddimah min Kitab al Ibar wa Diwan al Mubtada’ wa al Khabar fi Ayyam al Arab wa al Ajam wa al Bar bar, Beirut, Dar al Fikr, TT, h. 476
Kamis, 05 Mei 2011
Rabu, 04 Mei 2011
Integrasi Kepribadian Efektif dengan Pendidikan Islam
PENDAHULUAN
Perkembangan yang diperbuat pendidikan terhadap manusia ialah mengembangkanya untuk menjadi pribadinya,bukan menjadi yang berada diluar pribadinya. Perkembangan mengandung arti perubahan demi perubahan. Disini implisit konsep Islam tentang manusia seutuhnya, bukan hanya makhluk jasmani, melainkan makhluk rohani dengan potensi berpikir dan berperasaan. Proses perkembangan mengandung arti perubahan demi perubahan, yang dilakukan melalui runtunan aktivitas tingkah laku dengan tahap demi tahap, bukan usaha sekali jadi.
Ibnu Miskawaih mengemukakan kepribadian atau akhlak dapat berubah dengan kebiasaan dan latihan serta pengajaran yang baik. Manusia dapat diperbaiki akhlaknya dengan mengosongkan jiwa dari akhlak madzmumah (tercela) untuk selanjutnya menghiasi diri dengan akhlak yang mahmudah (terpuji) ( Dalam Iberani, 2003;144). Karena kehidupan manusia sebagai individu maupun makhluk sosial ia senantiasa mengalami warna warni kehidupan. Ada kalanya senang, tentram dan gembira. Tetapi pengalaman hidup membuktikan bahwa manusia juga kadang kadang mengalami hal-hal yang pahit, gelisah, frustasi dan sebagainya, ini menunjukan bahwa manusia senantiasa mengalami dinamika kehidupan.
Berbagai macam cara dilakukan agar manusia dapat menyalurkan rasa senang, tenang dan gembira atau dengan kata lain agar manusia memperoleh kebahagiaan dan terhindar dari hal-hal yang mengecewakan. Mampu tidaknya seseorang dalam mencapai keinginannya tergantung dari vitalitas, temperamen, watak serta kecerdasan seseorang. Vitalitas merupakan semangat hidup, pusat tenaga seseorang, ia merupakan dasar kepribadian dan merupakan unsur penting yang ikut menentukan kemampuan berprestasi, dan bersifat dinamis. Setiap orang memiliki vitalitas yang berbeda ada yang kuat ada juga lemah (Fauzi, 1999;133).
Kepribadian juga merupakan faktor yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Ia akan ikut menentukan sukses tidaknya seseorang. Kepribadian meskipun ia merupakan faktor yang penting dalam kejiwaan dan berada pada tataran rohani namun wujudnya dapat terlihat pada tingkah laku dan sikap hidup seseorang.
Beberapa ahli psikologi telah banyak mengemukakan teori tentang kepribadian antara lain William James, ia berpendapat bahwa kepribadian merupakan unsur kesatuan yang berlapis-lapis. Terdiri dari The Material Self atau diri materi, The Social Self atau diri social, The Spiritual Self atau diri rohani dan Pure Ege atau ego murni atau Self of Selves (Fauzi; 1999;132). Sementara itu Sigmund Freud menyatakan bahwa kepribadian itu terdiri atas tiga system yaitu id, ego dan super ego. Id merupakan kepribadian yang berhubungan dangan prinsip kesenangan atau pemuasan biologis, sedang ego merupakan bagian kepribadian yang berhubungan dengan lingkungan dasarnya adalah kenyataan dan super ego merupakan bagian kepribadian yang berhubungan dengan norma sosial, moral dan rohani.
Di kalangan intelektual Muslim masalah jiwa sudah banyak dibahas oleh para ahli diantaranya Al-Farabi, Ibnu Sina, Ikhwan Ash Shafa, Al-Gazali, Ibnu Rusyd, Ibnu Taimiyah dari Ibnu Qayyim al Jauzi(Najali, 2002;16).
Seorang filasof Muslim sekaligus psikolog Muslim Ibnu Sina telah menemukan metode conseling dengan cara mengukur kecepatan detak jantung pasiennya untuk mengetahui kadar emosinya. Teori ini dalam ilmu psikologi modern disebut alat pendeteksi kebohongan yang dapat digunakan untuk mengungkap berbagai tindak kejahatan (Najali, 1999; 17). Hal ini karena substansi manusia itu sendiri terdiri dari jasad dan ruh. Keduanya saling membutuhkan, jasad tanpa ruh maka merupakan substansi yang mati dan ruh tanpa jasad merupakan substansi ghaib.
Dalam eseinya “Kekuatan dan Keutamaan Karakter”, Bagus Takwin, mengutip Gordon W. Allport, menyatakan bahwa kepribadian memiliki aspek psikis (seperti berpikir, mempercayai sesuatu dan merasa) dan aspek fisik manusia (seperti berjalan, berbicara dan melakukan tindakan-tindakan motorik). Kepribadian didefinisikan sebagai organisasi yang dinamis dari keseluruhan sistem psiko-fisik yang menentukan penyesuaian diri individu yang unik dengan lingkungannya.
Etika kepribadianpun pada dasarnya mengambil dua jalan : satu adalah teknik hubungan manusia dan masyarakat, dan yang satu lagi adalah sikap mental positif. Stephen R. Covoy memberikan gambaran tentang pribadi yang berhasil adalah peribadi yang mencapai kemenangan. Kebiasaan efektif mempunyai pengaruh terhadap pengembangan kepribadian, karena kebiasaan-kebiasaan ini bersifat mendasar merupakan hal primer, yang menggambarkan internalisasi prinsip-prinsip yang benar yang menjadi dasar bagi kebahagiaan dan keberhasilan yang langgeng (Covey, 1997;7).
Kebiasaan adalah adalah sebagai titik pertemuan dari pengetahuan, keterampilan dan keinginan. Pengetahuan adalah pardigma teoritis, apa yang harus dilakukan dan mengapa. Keterampilan adalah bagaimana melakukanya. Dan keinginan adalah motivasi, keinginan untuk melakukan.
Melihat realitas kebobrokan akhlak atau kepribadian muslim yang telah terkontaminasi dengan segala bentuk kepribadian dan gaya hidup yang serba material dan hedonisme, terutama kehidupan yang tidak mempunyai ukuran pasti kepribadian dan tidak mempunyai keyakinan terhadap terminal pasti dari kehidupan maka perlu bagi sekalian insan beriman untuk kembali kepada ajaran moralitas atau kepribadian yang sudah standar dari Allah SWT, yakni dari al-Qur’an dan suri teladan Muhammad SAW.
Realitanya, Orang tua, Guru, Dosen. semuanya ingin menjadikan peserta didiknya menjadi pribadi yang berkarakter, sementara acuan kepada etika kepribadiaan kebanyakan hanya di bibir, penggerak dasarnya adalah teknik mempengaruhi yang cepat, srategi kekuasan keterampilan berkomunikasi, dan sikap positif, mereka hanya mementingkan motif perbandingan social dan tidak melihat nilai-nilai kepribadian anak dari kebiasaan efektif yang melahirkan dampak positif dan nilai-nilai sosio-masyarakat.
IMPLIKASI PENDIDIKAN ISLAM
Implikasi pendidikan Islam pada pengembangan kepribadian atau akhlak al-karimah yang sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan telah diterjemahkan di dalam prilaku hidup Rasulullah SAW. Kesempurnaan akhlak atau kepribadian muslim yang qur’ani itu sendiri merupakan bagian dari fitrah manusia. Siapapun orangnya ingin menampilkan kepribadian, hanya disayangkan dalam pengembangan kepribadian banyak orang yang menyerap sumbernya bukan dari al-Qur’an, melain dari rekayasa etika para filosof atau model-model kepribadian dari Barat, yang notabenenya bersumber dari ajaran sekuler.
Banyak orang yang salah kaprah terhadap pengertian kepribadian tersebut, yakni tidak dapat membedakan mana yang disebut dengan etika atau akhlak. Etika itu sendiri merupakan suatu norma-norma atau budaya yang telah disepakati oleh suatu masyarakat dalam tempat dan kurun waktu tertentu. Sedangkan akhlak atau kepribadian muslim (baca: kepribadian qur’ani) merupakan norma-norma atau prinsip-prinsip hubungan baik antar manusia dengan manusia, atau antar manusia dengan alam, dan yang terpenting antar manusia dengan Tuhan, yang telah ditetapkan Allah dalam al-Qur’an serta dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Oleh karenanya kepribadian Rasulullah SAW merupakan contoh yang paripurna yang harus dicontoh atau diikuti oleh semua umatnya. Sebagaimana firman Allah SWT :
Artinya : Sungguh dalam diri Rasulullah SAW terdapat contoh tauladan yang baik bagi kamu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah (Q:S al-Ahzab :21).
Stephen R Covey pada analisisnya mengemukakan dari Merlyn Ferguson, “Tak seorangpun dapat membujuk orang lain untuk berubah. Kita masing-masing menjaga gerbang perubahan hanya dapat dibuka dari dalam. Kita tidak dapat membuka gerbang lain, entah melalui argumen atau melalui imbuan emosional.”
Pertama, pertumbuhan akan bersifat evalusioner, tetapi efek bersihnya akan bersifat revolusioner, dengan perinsip keseimbangan. Jika dijalani sepenuhnya , akan mengubah sebagian besar individu dan organisasi.
Efek dari membuka gerbang perubahan kepribadian pada tiga kebiasaan pertama yaitu menjadi proaktif, merujuk pada tujuan akhir, dan mendahulukan yang utama. Itulah kebiasaan-kebiasaan kemenangan pribadi yang akan menimbulkan percaya diri yang signifikan. Dan akan memulai mengenal diri pribadi dengan cara yang mendalam, sifat pribadi, nilai-nilai yang paling dalam dan kapasitas konstribusi yang unik. Dengan ini pribadi akan mendefinisikan diri, dan bukan menurut opini orang lain atau perbandingan dengan orang lain.
Ironisnya, semua itu akan ditemukan pribadi seseorang yang tidak terlalu peduli tantang apa yang dipikirkan orang lain. Untuk itu pribadi juga harus membuka diri untuk publik, dengan kebiasaan-kebiasaan kemenangan publik, berfikir menang, berusaha mengerti dahulu baru dimengerti, dan mewujudkan sinergi, hubungan baik akan pulih, akan merasa lebih solid, lebih kreatif, dan penuh dengan petualangan. Kebiasaan ketuju adalah pembaru enam kebiasaan untuk saling tergantung secara efektif sehingga menimbulkan kemenangan pribadi sendiri dan kemenangan pribadi terhadap publik atau sosio-masyarakat (Covey,1997;50-51).
Perkembangan yang diperbuat pendidikan terhadap manusia ialah mengembangkanya untuk menjadi pribadinya,bukan menjadi yang berada diluar pribadinya. Perkembangan mengandung arti perubahan demi perubahan. Disini implisit konsep Islam tentang manusia seutuhnya, bukan hanya makhluk jasmani, melainkan makhluk rohani dengan potensi berpikir dan berperasaan. Proses perkembangan mengandung arti perubahan demi perubahan, yang dilakukan melalui runtunan aktivitas tingkah laku dengan tahap demi tahap, bukan usaha sekali jadi.
Ibnu Miskawaih mengemukakan kepribadian atau akhlak dapat berubah dengan kebiasaan dan latihan serta pengajaran yang baik. Manusia dapat diperbaiki akhlaknya dengan mengosongkan jiwa dari akhlak madzmumah (tercela) untuk selanjutnya menghiasi diri dengan akhlak yang mahmudah (terpuji) ( Dalam Iberani, 2003;144). Karena kehidupan manusia sebagai individu maupun makhluk sosial ia senantiasa mengalami warna warni kehidupan. Ada kalanya senang, tentram dan gembira. Tetapi pengalaman hidup membuktikan bahwa manusia juga kadang kadang mengalami hal-hal yang pahit, gelisah, frustasi dan sebagainya, ini menunjukan bahwa manusia senantiasa mengalami dinamika kehidupan.
Berbagai macam cara dilakukan agar manusia dapat menyalurkan rasa senang, tenang dan gembira atau dengan kata lain agar manusia memperoleh kebahagiaan dan terhindar dari hal-hal yang mengecewakan. Mampu tidaknya seseorang dalam mencapai keinginannya tergantung dari vitalitas, temperamen, watak serta kecerdasan seseorang. Vitalitas merupakan semangat hidup, pusat tenaga seseorang, ia merupakan dasar kepribadian dan merupakan unsur penting yang ikut menentukan kemampuan berprestasi, dan bersifat dinamis. Setiap orang memiliki vitalitas yang berbeda ada yang kuat ada juga lemah (Fauzi, 1999;133).
Kepribadian juga merupakan faktor yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Ia akan ikut menentukan sukses tidaknya seseorang. Kepribadian meskipun ia merupakan faktor yang penting dalam kejiwaan dan berada pada tataran rohani namun wujudnya dapat terlihat pada tingkah laku dan sikap hidup seseorang.
Beberapa ahli psikologi telah banyak mengemukakan teori tentang kepribadian antara lain William James, ia berpendapat bahwa kepribadian merupakan unsur kesatuan yang berlapis-lapis. Terdiri dari The Material Self atau diri materi, The Social Self atau diri social, The Spiritual Self atau diri rohani dan Pure Ege atau ego murni atau Self of Selves (Fauzi; 1999;132). Sementara itu Sigmund Freud menyatakan bahwa kepribadian itu terdiri atas tiga system yaitu id, ego dan super ego. Id merupakan kepribadian yang berhubungan dangan prinsip kesenangan atau pemuasan biologis, sedang ego merupakan bagian kepribadian yang berhubungan dengan lingkungan dasarnya adalah kenyataan dan super ego merupakan bagian kepribadian yang berhubungan dengan norma sosial, moral dan rohani.
Di kalangan intelektual Muslim masalah jiwa sudah banyak dibahas oleh para ahli diantaranya Al-Farabi, Ibnu Sina, Ikhwan Ash Shafa, Al-Gazali, Ibnu Rusyd, Ibnu Taimiyah dari Ibnu Qayyim al Jauzi(Najali, 2002;16).
Seorang filasof Muslim sekaligus psikolog Muslim Ibnu Sina telah menemukan metode conseling dengan cara mengukur kecepatan detak jantung pasiennya untuk mengetahui kadar emosinya. Teori ini dalam ilmu psikologi modern disebut alat pendeteksi kebohongan yang dapat digunakan untuk mengungkap berbagai tindak kejahatan (Najali, 1999; 17). Hal ini karena substansi manusia itu sendiri terdiri dari jasad dan ruh. Keduanya saling membutuhkan, jasad tanpa ruh maka merupakan substansi yang mati dan ruh tanpa jasad merupakan substansi ghaib.
Dalam eseinya “Kekuatan dan Keutamaan Karakter”, Bagus Takwin, mengutip Gordon W. Allport, menyatakan bahwa kepribadian memiliki aspek psikis (seperti berpikir, mempercayai sesuatu dan merasa) dan aspek fisik manusia (seperti berjalan, berbicara dan melakukan tindakan-tindakan motorik). Kepribadian didefinisikan sebagai organisasi yang dinamis dari keseluruhan sistem psiko-fisik yang menentukan penyesuaian diri individu yang unik dengan lingkungannya.
Etika kepribadianpun pada dasarnya mengambil dua jalan : satu adalah teknik hubungan manusia dan masyarakat, dan yang satu lagi adalah sikap mental positif. Stephen R. Covoy memberikan gambaran tentang pribadi yang berhasil adalah peribadi yang mencapai kemenangan. Kebiasaan efektif mempunyai pengaruh terhadap pengembangan kepribadian, karena kebiasaan-kebiasaan ini bersifat mendasar merupakan hal primer, yang menggambarkan internalisasi prinsip-prinsip yang benar yang menjadi dasar bagi kebahagiaan dan keberhasilan yang langgeng (Covey, 1997;7).
Kebiasaan adalah adalah sebagai titik pertemuan dari pengetahuan, keterampilan dan keinginan. Pengetahuan adalah pardigma teoritis, apa yang harus dilakukan dan mengapa. Keterampilan adalah bagaimana melakukanya. Dan keinginan adalah motivasi, keinginan untuk melakukan.
Melihat realitas kebobrokan akhlak atau kepribadian muslim yang telah terkontaminasi dengan segala bentuk kepribadian dan gaya hidup yang serba material dan hedonisme, terutama kehidupan yang tidak mempunyai ukuran pasti kepribadian dan tidak mempunyai keyakinan terhadap terminal pasti dari kehidupan maka perlu bagi sekalian insan beriman untuk kembali kepada ajaran moralitas atau kepribadian yang sudah standar dari Allah SWT, yakni dari al-Qur’an dan suri teladan Muhammad SAW.
Realitanya, Orang tua, Guru, Dosen. semuanya ingin menjadikan peserta didiknya menjadi pribadi yang berkarakter, sementara acuan kepada etika kepribadiaan kebanyakan hanya di bibir, penggerak dasarnya adalah teknik mempengaruhi yang cepat, srategi kekuasan keterampilan berkomunikasi, dan sikap positif, mereka hanya mementingkan motif perbandingan social dan tidak melihat nilai-nilai kepribadian anak dari kebiasaan efektif yang melahirkan dampak positif dan nilai-nilai sosio-masyarakat.
IMPLIKASI PENDIDIKAN ISLAM
Implikasi pendidikan Islam pada pengembangan kepribadian atau akhlak al-karimah yang sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan telah diterjemahkan di dalam prilaku hidup Rasulullah SAW. Kesempurnaan akhlak atau kepribadian muslim yang qur’ani itu sendiri merupakan bagian dari fitrah manusia. Siapapun orangnya ingin menampilkan kepribadian, hanya disayangkan dalam pengembangan kepribadian banyak orang yang menyerap sumbernya bukan dari al-Qur’an, melain dari rekayasa etika para filosof atau model-model kepribadian dari Barat, yang notabenenya bersumber dari ajaran sekuler.
Banyak orang yang salah kaprah terhadap pengertian kepribadian tersebut, yakni tidak dapat membedakan mana yang disebut dengan etika atau akhlak. Etika itu sendiri merupakan suatu norma-norma atau budaya yang telah disepakati oleh suatu masyarakat dalam tempat dan kurun waktu tertentu. Sedangkan akhlak atau kepribadian muslim (baca: kepribadian qur’ani) merupakan norma-norma atau prinsip-prinsip hubungan baik antar manusia dengan manusia, atau antar manusia dengan alam, dan yang terpenting antar manusia dengan Tuhan, yang telah ditetapkan Allah dalam al-Qur’an serta dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Oleh karenanya kepribadian Rasulullah SAW merupakan contoh yang paripurna yang harus dicontoh atau diikuti oleh semua umatnya. Sebagaimana firman Allah SWT :
Artinya : Sungguh dalam diri Rasulullah SAW terdapat contoh tauladan yang baik bagi kamu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah (Q:S al-Ahzab :21).
Stephen R Covey pada analisisnya mengemukakan dari Merlyn Ferguson, “Tak seorangpun dapat membujuk orang lain untuk berubah. Kita masing-masing menjaga gerbang perubahan hanya dapat dibuka dari dalam. Kita tidak dapat membuka gerbang lain, entah melalui argumen atau melalui imbuan emosional.”
Pertama, pertumbuhan akan bersifat evalusioner, tetapi efek bersihnya akan bersifat revolusioner, dengan perinsip keseimbangan. Jika dijalani sepenuhnya , akan mengubah sebagian besar individu dan organisasi.
Efek dari membuka gerbang perubahan kepribadian pada tiga kebiasaan pertama yaitu menjadi proaktif, merujuk pada tujuan akhir, dan mendahulukan yang utama. Itulah kebiasaan-kebiasaan kemenangan pribadi yang akan menimbulkan percaya diri yang signifikan. Dan akan memulai mengenal diri pribadi dengan cara yang mendalam, sifat pribadi, nilai-nilai yang paling dalam dan kapasitas konstribusi yang unik. Dengan ini pribadi akan mendefinisikan diri, dan bukan menurut opini orang lain atau perbandingan dengan orang lain.
Ironisnya, semua itu akan ditemukan pribadi seseorang yang tidak terlalu peduli tantang apa yang dipikirkan orang lain. Untuk itu pribadi juga harus membuka diri untuk publik, dengan kebiasaan-kebiasaan kemenangan publik, berfikir menang, berusaha mengerti dahulu baru dimengerti, dan mewujudkan sinergi, hubungan baik akan pulih, akan merasa lebih solid, lebih kreatif, dan penuh dengan petualangan. Kebiasaan ketuju adalah pembaru enam kebiasaan untuk saling tergantung secara efektif sehingga menimbulkan kemenangan pribadi sendiri dan kemenangan pribadi terhadap publik atau sosio-masyarakat (Covey,1997;50-51).
Langganan:
Postingan (Atom)