PENDAHULUAN
Perkembangan yang diperbuat pendidikan terhadap manusia ialah mengembangkanya untuk menjadi pribadinya,bukan menjadi yang berada diluar pribadinya. Perkembangan mengandung arti perubahan demi perubahan. Disini implisit konsep Islam tentang manusia seutuhnya, bukan hanya makhluk jasmani, melainkan makhluk rohani dengan potensi berpikir dan berperasaan. Proses perkembangan mengandung arti perubahan demi perubahan, yang dilakukan melalui runtunan aktivitas tingkah laku dengan tahap demi tahap, bukan usaha sekali jadi.
Ibnu Miskawaih mengemukakan kepribadian atau akhlak dapat berubah dengan kebiasaan dan latihan serta pengajaran yang baik. Manusia dapat diperbaiki akhlaknya dengan mengosongkan jiwa dari akhlak madzmumah (tercela) untuk selanjutnya menghiasi diri dengan akhlak yang mahmudah (terpuji) ( Dalam Iberani, 2003;144). Karena kehidupan manusia sebagai individu maupun makhluk sosial ia senantiasa mengalami warna warni kehidupan. Ada kalanya senang, tentram dan gembira. Tetapi pengalaman hidup membuktikan bahwa manusia juga kadang kadang mengalami hal-hal yang pahit, gelisah, frustasi dan sebagainya, ini menunjukan bahwa manusia senantiasa mengalami dinamika kehidupan.
Berbagai macam cara dilakukan agar manusia dapat menyalurkan rasa senang, tenang dan gembira atau dengan kata lain agar manusia memperoleh kebahagiaan dan terhindar dari hal-hal yang mengecewakan. Mampu tidaknya seseorang dalam mencapai keinginannya tergantung dari vitalitas, temperamen, watak serta kecerdasan seseorang. Vitalitas merupakan semangat hidup, pusat tenaga seseorang, ia merupakan dasar kepribadian dan merupakan unsur penting yang ikut menentukan kemampuan berprestasi, dan bersifat dinamis. Setiap orang memiliki vitalitas yang berbeda ada yang kuat ada juga lemah (Fauzi, 1999;133).
Kepribadian juga merupakan faktor yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Ia akan ikut menentukan sukses tidaknya seseorang. Kepribadian meskipun ia merupakan faktor yang penting dalam kejiwaan dan berada pada tataran rohani namun wujudnya dapat terlihat pada tingkah laku dan sikap hidup seseorang.
Beberapa ahli psikologi telah banyak mengemukakan teori tentang kepribadian antara lain William James, ia berpendapat bahwa kepribadian merupakan unsur kesatuan yang berlapis-lapis. Terdiri dari The Material Self atau diri materi, The Social Self atau diri social, The Spiritual Self atau diri rohani dan Pure Ege atau ego murni atau Self of Selves (Fauzi; 1999;132). Sementara itu Sigmund Freud menyatakan bahwa kepribadian itu terdiri atas tiga system yaitu id, ego dan super ego. Id merupakan kepribadian yang berhubungan dangan prinsip kesenangan atau pemuasan biologis, sedang ego merupakan bagian kepribadian yang berhubungan dengan lingkungan dasarnya adalah kenyataan dan super ego merupakan bagian kepribadian yang berhubungan dengan norma sosial, moral dan rohani.
Di kalangan intelektual Muslim masalah jiwa sudah banyak dibahas oleh para ahli diantaranya Al-Farabi, Ibnu Sina, Ikhwan Ash Shafa, Al-Gazali, Ibnu Rusyd, Ibnu Taimiyah dari Ibnu Qayyim al Jauzi(Najali, 2002;16).
Seorang filasof Muslim sekaligus psikolog Muslim Ibnu Sina telah menemukan metode conseling dengan cara mengukur kecepatan detak jantung pasiennya untuk mengetahui kadar emosinya. Teori ini dalam ilmu psikologi modern disebut alat pendeteksi kebohongan yang dapat digunakan untuk mengungkap berbagai tindak kejahatan (Najali, 1999; 17). Hal ini karena substansi manusia itu sendiri terdiri dari jasad dan ruh. Keduanya saling membutuhkan, jasad tanpa ruh maka merupakan substansi yang mati dan ruh tanpa jasad merupakan substansi ghaib.
Dalam eseinya “Kekuatan dan Keutamaan Karakter”, Bagus Takwin, mengutip Gordon W. Allport, menyatakan bahwa kepribadian memiliki aspek psikis (seperti berpikir, mempercayai sesuatu dan merasa) dan aspek fisik manusia (seperti berjalan, berbicara dan melakukan tindakan-tindakan motorik). Kepribadian didefinisikan sebagai organisasi yang dinamis dari keseluruhan sistem psiko-fisik yang menentukan penyesuaian diri individu yang unik dengan lingkungannya.
Etika kepribadianpun pada dasarnya mengambil dua jalan : satu adalah teknik hubungan manusia dan masyarakat, dan yang satu lagi adalah sikap mental positif. Stephen R. Covoy memberikan gambaran tentang pribadi yang berhasil adalah peribadi yang mencapai kemenangan. Kebiasaan efektif mempunyai pengaruh terhadap pengembangan kepribadian, karena kebiasaan-kebiasaan ini bersifat mendasar merupakan hal primer, yang menggambarkan internalisasi prinsip-prinsip yang benar yang menjadi dasar bagi kebahagiaan dan keberhasilan yang langgeng (Covey, 1997;7).
Kebiasaan adalah adalah sebagai titik pertemuan dari pengetahuan, keterampilan dan keinginan. Pengetahuan adalah pardigma teoritis, apa yang harus dilakukan dan mengapa. Keterampilan adalah bagaimana melakukanya. Dan keinginan adalah motivasi, keinginan untuk melakukan.
Melihat realitas kebobrokan akhlak atau kepribadian muslim yang telah terkontaminasi dengan segala bentuk kepribadian dan gaya hidup yang serba material dan hedonisme, terutama kehidupan yang tidak mempunyai ukuran pasti kepribadian dan tidak mempunyai keyakinan terhadap terminal pasti dari kehidupan maka perlu bagi sekalian insan beriman untuk kembali kepada ajaran moralitas atau kepribadian yang sudah standar dari Allah SWT, yakni dari al-Qur’an dan suri teladan Muhammad SAW.
Realitanya, Orang tua, Guru, Dosen. semuanya ingin menjadikan peserta didiknya menjadi pribadi yang berkarakter, sementara acuan kepada etika kepribadiaan kebanyakan hanya di bibir, penggerak dasarnya adalah teknik mempengaruhi yang cepat, srategi kekuasan keterampilan berkomunikasi, dan sikap positif, mereka hanya mementingkan motif perbandingan social dan tidak melihat nilai-nilai kepribadian anak dari kebiasaan efektif yang melahirkan dampak positif dan nilai-nilai sosio-masyarakat.
IMPLIKASI PENDIDIKAN ISLAM
Implikasi pendidikan Islam pada pengembangan kepribadian atau akhlak al-karimah yang sesuai dengan tuntunan al-Qur’an dan telah diterjemahkan di dalam prilaku hidup Rasulullah SAW. Kesempurnaan akhlak atau kepribadian muslim yang qur’ani itu sendiri merupakan bagian dari fitrah manusia. Siapapun orangnya ingin menampilkan kepribadian, hanya disayangkan dalam pengembangan kepribadian banyak orang yang menyerap sumbernya bukan dari al-Qur’an, melain dari rekayasa etika para filosof atau model-model kepribadian dari Barat, yang notabenenya bersumber dari ajaran sekuler.
Banyak orang yang salah kaprah terhadap pengertian kepribadian tersebut, yakni tidak dapat membedakan mana yang disebut dengan etika atau akhlak. Etika itu sendiri merupakan suatu norma-norma atau budaya yang telah disepakati oleh suatu masyarakat dalam tempat dan kurun waktu tertentu. Sedangkan akhlak atau kepribadian muslim (baca: kepribadian qur’ani) merupakan norma-norma atau prinsip-prinsip hubungan baik antar manusia dengan manusia, atau antar manusia dengan alam, dan yang terpenting antar manusia dengan Tuhan, yang telah ditetapkan Allah dalam al-Qur’an serta dicontohkan oleh Rasulullah SAW.
Oleh karenanya kepribadian Rasulullah SAW merupakan contoh yang paripurna yang harus dicontoh atau diikuti oleh semua umatnya. Sebagaimana firman Allah SWT :
Artinya : Sungguh dalam diri Rasulullah SAW terdapat contoh tauladan yang baik bagi kamu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan yang banyak mengingat Allah (Q:S al-Ahzab :21).
Stephen R Covey pada analisisnya mengemukakan dari Merlyn Ferguson, “Tak seorangpun dapat membujuk orang lain untuk berubah. Kita masing-masing menjaga gerbang perubahan hanya dapat dibuka dari dalam. Kita tidak dapat membuka gerbang lain, entah melalui argumen atau melalui imbuan emosional.”
Pertama, pertumbuhan akan bersifat evalusioner, tetapi efek bersihnya akan bersifat revolusioner, dengan perinsip keseimbangan. Jika dijalani sepenuhnya , akan mengubah sebagian besar individu dan organisasi.
Efek dari membuka gerbang perubahan kepribadian pada tiga kebiasaan pertama yaitu menjadi proaktif, merujuk pada tujuan akhir, dan mendahulukan yang utama. Itulah kebiasaan-kebiasaan kemenangan pribadi yang akan menimbulkan percaya diri yang signifikan. Dan akan memulai mengenal diri pribadi dengan cara yang mendalam, sifat pribadi, nilai-nilai yang paling dalam dan kapasitas konstribusi yang unik. Dengan ini pribadi akan mendefinisikan diri, dan bukan menurut opini orang lain atau perbandingan dengan orang lain.
Ironisnya, semua itu akan ditemukan pribadi seseorang yang tidak terlalu peduli tantang apa yang dipikirkan orang lain. Untuk itu pribadi juga harus membuka diri untuk publik, dengan kebiasaan-kebiasaan kemenangan publik, berfikir menang, berusaha mengerti dahulu baru dimengerti, dan mewujudkan sinergi, hubungan baik akan pulih, akan merasa lebih solid, lebih kreatif, dan penuh dengan petualangan. Kebiasaan ketuju adalah pembaru enam kebiasaan untuk saling tergantung secara efektif sehingga menimbulkan kemenangan pribadi sendiri dan kemenangan pribadi terhadap publik atau sosio-masyarakat (Covey,1997;50-51).
thank for you information
BalasHapusterima kasih informasi nya pak.
BalasHapusinformasy nya berguna, maju terus pak.
BalasHapusok thx your informasion
BalasHapus